Dulu, saat kompeni berjaya mereka berpesta dari malam sampai pagi disana. Dan sesaat setelah para ‘londho’ ini angkat kaki dari bumi pertiwi, buruh rakyat jelata mengangkat cangkir dan poci mereka menikmati indahnya pagi di Kota Tua tanpa penjajahan tanpa penindasan, bermimpi anak cucunya merdeka.
Dulu sangkin bencinya kita menyebut mereka dengan panggilan paling hina yang pernah ada, ‘bule’ atau ‘londho’. Sebutan bengis yang kita buat bagi orang-orang barat penindas. Sunguh penuh kebencian.
Sekarang berbeda, anak-anak jaman menjunjung tinggi orang-orang barat ini berlebihan bagaikan dewa. Menyulap kata londho dan bule menjadi sebutan paling baik dan agung sedunia, menghina diri sendiri mengidolakan penjajahnya. Atau mungkin ‘menghina diri sendiri’ udah jadi tren bagi anak muda? atau cuma kita yang udah terlalu tua?
Sekarang sekali lagi kita ulangi sejarah mengenang masa sesaat setelah ‘bule-bule londho’ itu meninggalkan negeri tercinta, “Menikmati Teh Poci Pagi di Kota Tua Jakarta”. Berusaha mendefinisikan ulang kata ‘londho’ dan ‘bule’ menjadi kata paling hina yang pernah ada. Mengingatkan diri sendiri akan pahitnya perbudakan, menanamkan cita-cita menjadi tuan di tanah air tercinta.
Teh Poci Pagi di Kota Tua!